SEARCH TOURISM

Ciptagelar, Perkampungan Cantik di Kaki G. Halimun

>> Wednesday, November 28, 2007

Semula Bernama Kampung Sukamulya
Kampung Ciptarasa

GAPURA pertama yang menuju Kampung Ciptarasa yang kini telah ditinggalkan Abah Anom.* Nanang S/”Galura”

BAGI Encup Sucipta, demikian nama lengkap Abah Anom, ketua adat Kasepuhan, Ciptagelar Ciptarasa memiliki arti tersendiri. Di Ciptarasa lah dia diangkat jadi sesepuh girang (ketua adat) menggantikan ayahnya, Abah Arjo. Abah Anom jadi sesepuh girang dalam usia yang masih sangat muda, 17 tahun. Oleh karena itulah, dia dipanggil Abah Anom (bahasa Indonesia: muda)
Meski Kampung Ciptarasa mengandung arti tersendiri, Abah Anom tak kuasa menolak wangsit (perintah leluhur) yang memerintahkan dirinya pindah ke Ciptagelar. Oleh karena itu, Juli 2001, Abah Anom bersama belasan baris kolot (pembantu sesepuh girang) menjalankan wangsit tersebut. Beberapa rumah baris kolot beserta seluruh isinya ikut dibawa pindah.
Lokasi baru tempat tinggal Abah Anom beserta baris kolot-nya bukan daerah yang baru dibuka. Apalagi, tadinya hutan belantara. Abah Anom pindah ke tempat yang telah ada penduduknya dan kampungnya bernama Sukamulya. Oleh Abah Anom kemudian diganti menjadi Ciptagelar. "Ciptagelar masih termasuk Desa Sirnarasa," kata Abah Anom.
Ciptagelar yang dari Ciptarasa jaraknya sekira 14 kilometer berada di ketinggian 1,050 meter di atas permukaan laut (dpl). Berudara dingin dan sering kali diselimuti kabut. Ciptagelar merupakan daerah cekungan, dikelilingi Gunung Surandil, Gunung Karancang, dan Gunung Kendeng. Di Ciptagelar terdapat sekira 80 kepala keluarga (KK) termasuk Abah Anom dan baris kolot.
Untuk menuju ke Ciptagelar, ada tiga jalur pilihan; dari jalan utama Sukabumi-Cisolok belok di Sukawayana dilanjutkan sampai Pangguyangan. Dari Pangguyangan kendaraan yang bisa melintas jalan ini hanya kendaraan besar atau jip bergarda dua dan hanya sampai Ciptarasa. Untuk ke Ciptagelar bisa naik ojek atau jalan kaki, menempuh jarak 14 kilometer melewati hutan lebat.
Pilihan kedua, tidak melalui Ciptarasa, tetapi melalui Desa Sirnaresmi yang masuknya sama dari Sukawayana. Lewat jalan ini kendaraan bisa sampai ke Ciptagelar, tetapi kendaraannya minimal jip. "Saya sendiri hanya berani membawa jip," kata Abah Anom yang memiliki dua mobil, jip Feroza dan Escudo. Mobil Escudonya disimpan di Ciptarasa.
Jalur yang sudah dilalui kendaraan umum adalah melalui Desa Maja. Dari Pelabuhanratu naik angkutan umum yang menuju Cisolok, berhenti di Desa Maja. Perjalanan dilanjutkan dengan naik angkutan umum jurusan Cikotok dan berhenti di Kantor Kepala Desa Sirnaresmi. Seterusnya bisa jalan kaki bisa juga naik ojek. "Kalau naik ojek siap-siap sport jantung," kata Gangga, warga Jakarta yang pernah ke Ciptagelar.
Baik memakai kendaraan, jalan kaki, atau naik ojek sama-sama melelahkan. Jalan yang dilalui, selain dipenuhi oleh tanjakan curam, juga jalannya masih berbatuan yang semuanya membuat jantung deg-degan. "Bagi pencinta alam memang enak jalan kaki, paling tidak dari Ciptarasa atau dari Kantor Desa Sirnaresmi," kata Gangga lagi.
Kelelahan yang dirasakan ketika menempuh perjalanan, sampai di Ciptagelar mendadak sirna. Udara yang sejuk serta pemandangan alam yang hijau dan pesawahan yang berundak-undak membuat badan segar kembali. Apalagi, ketika sudah masuk ke imah gede (rumah sesepuh girang) dan mendapat kehangatan sambutan tuan rumah.
"Abah dan keluarganya sangat ramah," kata Ir. Syarif H. Marsono, konsultan dari Jakarta yang beberapa kali berkunjung ke Ciptagelar. Di imah gede yang tungku-nya tak pernah padam selalu tersedia nasi, lauk-pauk, bahkan kopi dan susu. "Kita bebas makan apa saja karena khusus disediakan untuk tamu dan untuk warga yang memerlukan makanan," kata Ir. Syarif.
Imah gede sendiri cukup besar, melebihi imah gede yang ada di Ciptarasa, mampu menampung puluhan orang. Tamu yang berkunjung ke sana tidak perluh khawatir tidak bisa mendapatkan tempat untuk tidur. Penerangan di Ciptagelar sudah mempergunakan listrik, bersumber dari pembangkit listrik tenaga air mikro (kecil) yang dibuat oleh Abah Anom, seperti halnya di Ciptarasa.
Imah gede di Ciptagelar dan rumah-rumah penduduk yang lainya, termasuk rumah baris kolot, tidak berbeda dengan yang ada di Ciptarasa; panggung, dan beratap injuk.
"Ketentuan itu tetap berlaku karena ketentuan adat, bukan ketentuan yang ada di suatu tempat," kata Abah Anom yang memiliki telepon satelit dan radio komunikasi.
Abah Anom tidak bisa memerkirakan kapan wangsit yang memerintahkan dirinya pindah turun lagi. "Kami teu nyaho (saya tidak tahu)," katanya. Kalau pun harus pindah lagi, menurut Abah Anom, tidak mungkin balik ke tempat yang pernah didiami oleh dirinya dan leluhurnya. "Itu tak mungkin terjadi, kami pindah ke tempat baru," katanya.
Menurut Abah Anom, Kasepuhan yang dipimpinnya suatu saat tidak akan berpindah-pindah lagi, yakni jika telah ditemukan tempat yang benar-benar baik menurut adat.
"Tetapi, saya tidak tahu kapan saya punya tempat tinggal tetap, saya pun tidak di mana tempat tinggal tetap saya, itu semua bergantung pada wangsit," katanya.

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 27 Desember 2003

0 comments:

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP